Masyarakat Ekonomi ASEAN

EDITOR: IMPIANI DAN MUHAMMAD RYAN FAHD
PENULIS: Ardina Yunita Kartikasari, Iskandar Hamonangan dan Mohammad Ilyas Reyhan
COPYRIGHT © IREC INDONESIA 2019

Sejak terbentuk pada tahun 1967, ASEAN telah menjadi organisasi regional yang sukses dalam menjaga keamanan dan stabilitas kawasan Asia Tenggara. Kondisi keamanan yang stabil ini mendukung proses pembangunan ekonomi dan investasi di negara-negara anggotanya. Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi menyebut perdamaian di kawasan ASEAN tidak hanya dinikmati oleh sepuluh negara anggota ASEAN, melainkan juga oleh hampir separuh penduduk dunia yang tinggal di wilayah sekitar Asia Tenggara (Marsudi, 2017). Pertumbuhan ekonomi ASEAN antara tahun 2007 hingga 2015, rata-rata mencapai 5,3 persen. Hal ini menjadikan pertumbuhan ekonomi ASEAN sebagai yang terbesar ke-enam di dunia dan terbesar ke-tiga di Asia. Sementara di bidang investasi, pada tahun 2015 ASEAN menarik penanaman modal asing senilai 121 miliar dolar AS (ASEAN Secretariat, 2017). Capaian ASEAN tersebut dapat dilihat sebagai bagian dari keberhasilan komitmen negara-negara anggotanya dalam mengimplementasikan langkah-langkah menuju integrasi ekonomi ASEAN sesuai Cetak Biru Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015.

Latar Belakang Masyarakat Ekonomi ASEAN

Gagasan dibentuk Masyarakat Ekonomi ASEAN tidak terlepas dari krisis ekonomi yang pernah melanda Asia Tenggara pada tahun 1997. Meski berhasil bangkit dari krisis, negara-negara ASEAN kemudian menyadari adanya tantangan baru yang dapat menghambat pertumbuhan ekonomi kawasan yaitu kompetisi dengan China, terutama dalam menarik modal asing. Kondisi ini membuat para pemimpin ASEAN menilai adanya kebutuhan untuk pembangunan ekonomi jangka panjang dan berkelanjutan di kawasan. Dengan latar belakang inilah kemudian dibentuk Masyarakat Ekonomi ASEAN (Hew, 2007). Pembentukan Masyarakat Ekonomi ASEAN ini disepakati dalam Deklarasi Bali Concord II pada Oktober 2003. Dan pada tahun 2007, para pemimpin ASEAN sepakat untuk mempercepat pembentukan masyarakat ASEAN pada tahun 2015. Mereka mengadopsi Cetak Biru Masyarakat Ekonomi ASEAN pada Novembver 2007 (Das, 2013).

Masyarakat Ekonomi ASEAN yang resmi berlaku pada 31 Desember 2015 merupakan salah satu dari tiga pilar Masyarakat ASEAN. Masyarakat Ekonomi ASEAN bertujuan mewujudkan integrasi ekonomi ASEAN, yaitu tercapainya wilayah ASEAN yang aman dengan tingkat dinamika pembangunan yang lebih tinggi dan terintegrasi, pengentasan masyarakat ASEAN dari kemiskinan, serta pertumbuhan ekonomi untuk mencapai kemakmuran yang merata dan berkelanjutan (Kemlu, 2015).

Integrasi ekonomi juga dipandang sebagai cara untuk merevitalisasi ekonomi ASEAN karena negara-negara ASEAN juga memiliki tingkat pembangunan ekonomi yang berbeda (Hew, 2007). Dengan jumlah total populasi mencapai 634 juta jiwa pada tahun 2016, ASEAN menjadi populasi terbesar ke-tiga di dunia dan lebih dari setengah populasi merupakan usia produktif di bawah 30 tahun (ASEAN Statistic, 2017). Jumlah populasi sebesar ini dapat menjadi modal penggerak pembangunan ekonomi sekaligus sebagai pasar potensial bagi perusahaan-perusahaan ASEAN. Karenanya integrasi ekonomi melalui Masyarakat Ekonomi ASEAN diharapkan dapat mendorong perdagangan dan aliran investasi di kawasan, sehingga pada akhirnya akan menghapus kesenjangan pembangunan ekonomi di antara negara anggota ASEAN.

Karakteristik Masyarakat Ekonomi ASEAN

Untuk mewujudkan integrasi ekonomi, Masyarakat Ekonomi ASEAN memiliki empat karakteristik utama, yaitu pasar tunggal dan basis produksi, kawasan ekonomi yang berdaya saing tinggi, kawasan dengan pembangunan ekonomi yang merata, serta kawasan yang terintegrasi penuh dengan ekonomi global.

Lebih lanjut, ASEAN sebagai pasar tunggal dan basis produksi mencakup lima elemen utama, yaitu aliran bebas barang, aliran bebas jasa, aliran bebas investasi, aliran modal yang lebih bebas, dan aliran bebas tenaga kerja terampil. Selain itu pasar tunggal dan basis produksi juga meliputi dua komponen, yaitu Priority Integration Services (PIS) dan kerja sama bidang pangan, pertanian dan kehutanan.

Untuk aliran bebas barang, ASEAN telah memulainya sejak tahun 1993 dengan diberlakukan ASEAN Free Trade Area atau AFTA. AFTA telah menghapus 99,65 persen dari seluruh tariff lines di bawah skema Common Effective Preferential Tariff (CEPTF) AFTA untuk enam negara ASEAN (ASEAN 6), yaitu Brunei Darussalam, Filipina, Indonesia, Malaysia, Singapura dan Thailand. AFTA juga memberlakukan pengurangan sekitar 98, 96 persen tariff menjadi 0-5 persen untuk Kamboja, Laos, Myanmar dan Vietnam. Meski demikian, masing-masing negara ASEAN dibolehkan untuk tetap mempertahankan tariff terhadap produk-produk yang masuk dalam golongan sensitif bagi industri dalam negeri. Upaya tersebut dilanjutkan dengan penandatanganan ASEAN Agreement on Costum pada tahun 1997 dan ASEAN Trade in Goods Agreement atau ATIGA pada tahun 2009 (Kemlu, 2015).

Sektor jasa juga memiliki peran strategis bagi ASEAN untuk menjadi pasar tunggal dan basis produksi. Sektor jasa menyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) sekitar 40-50 persen terhadap perekonomian negara anggota ASEAN. Di samping itu, sektor jasa merupakan yang paling cepat pertumbuhannya di kawasan. Dan untuk meningkatkan kerja sama ekonomi melalui perdagangan di sektor jasa, negara anggota ASEAN menyepakati dan mengesahkan ASEAN Framework Agreement on Services (AFAS) pada 15 Desember di Thailand.

Selanjutnya, untuk mendorong integrasi sektor jasa di kawasan, dibutuhkan tenaga kerja terampil atau profesional di sejumlah bidang jasa. Terkait hal ini, para pekerja terampil dapat berpindah dari satu negara ASEAN ke negara ASEAN lainnya tanpa hambatan. Untuk memfasilitasi perpindahan ini, ASEAN menyepakati Mutual Recognition Arrangement (MRA) yang mengakui kualifikasi pendidikan, kualifikasi professional dan pengalaman. Saat ini terdapat delapan kesepakatan MRA di bidang jasa, di antaranya, tenaga profesional di bidang teknik, arsitektur, pariwisata, praktisi medis dan perawat.

Meski telah ada kesepakatan MRA, dalam implementasinya masih terdapat sejumlah hambatan. Di antaranya pengakuan terhadap standar tingkat ketrampilan pada masing-masing bidang. Hingga saat ini hanya jasa di bidang teknik dan arsitektur yang memiliki standar diakui di negara ASEAN. Sementara itu, perbedaan sistem pendidikan, pelatihan dan sertifikasi antar negara ASEAN juga menjadi tantangan besar dalam mengimplementasikan MRA. Untuk mengatasi hal ini, ASEAN membentuk ASEAN University Network yang bertujuan mempromosikan kerja sama antara pekerja profesional dan mendorong perluasan gagasan di antara pembuat kebijakan, komunitas akademik dan pihak-pihak lain yang berkaitan. Di samping itu, sejumlah negara ASEAN juga masih memberlakukan batasan-batasan bagi pekerja asing profesional. Salah satunya adalah Thailand yang belum mengimplementasikan kesepakatan MRA di dalam negeri (Das, 2013).        

ASEAN juga memahami bahwa integrasi ekonomi kawasan merupakan hal yang dinamis dan menjadi sebuah proses yang terus berjalan dengan pengaruh keterlibatan baik dari faktor domestik maupun eksternal. Sehingga terkait konteks ini, ASEAN menginisiasi Cetak Biru Masyarakat Ekonomi ASEAN 2025. Dalam Cetak Biru Masyarakat Ekonomi ASEAN 2025 terdapat lima karakteristik, yaitu integrasi ekonomi yang semakin tinggi dan terpadu; ASEAN yang dinamis, kompetitif dan inovatif; meningkatkan kerja sama sektoral dan konektivitas; ASEAN yang memiliki ketahanan, inklusif, berorientasi pada manusia; serta sebuah ASEAN yang global (ASEAN Secretariat, 2015).

Tren Perdagangan Masyarakat Ekonomi ASEAN

Sejak awal dibentuk Masyarakat Ekonomi ASEAN, fokus ke bidang perdagangan adalah salah satu tujuan utama. Beberapa hal yang akan kami bahas dalam tulisan ini adalah apa saja bidang perdagangan yang menjadi tren di era Masyarakat Ekonomi ASEAN. Salah satu kebijakan yang populer dari Masyarakat Ekonomi ASEAN adalah menjadikan ASEAN sebagai pasar tunggal. Dengan terciptanya pasar tunggal berbasis produksi yang berdaya saing tinggi, serta dengan didukung oleh integritas dari sisi regulasi perdagangan maka kebijakan Masyarakat Ekonomi ASEAN akan membuka peluang sebesar-besarnya bagi seluruh negara ASEAN untuk melakukan investasi, penambahan fasilitas, dan daya saing yang lebih luas.

Dengan demikian, masing-masing negara bisa mendapatkan manfaat dan keuntungan yang besar dari adanya pasar bebas tersebut. Selanjutnya ada beberapa sektor bisnis yang akan menjadi bisnis hangat di era Masyarakat Ekonomi ASEAN. Sesuai dengan kebijakan ASEAN, Masyarakat Ekonomi ASEAN memprioritaskan 12 sektor yang akan dibuka peluangnya untuk memasuki pasar bebas ini. Dari 12 sektor tersebut, 7 di antaranya berada dalam sektor perdagangan barang yang meliputi sektor industri pertanian, otomotif, peralatan elektronik, industri berbasis karet, industri tekstil, industri berbasis kayu, dan perikanan (Kemendag, 2015)

Perdagangan di sektor jasa meliputi teknologi informasi, logistik, pelayanan kesehatan, dan pariwisata. Tren perdagangan global ke depan tidak saja dipengaruhi oleh peranan perdagangan barang, tetapi juga oleh perdagangan jasa yang diperkirakan akan terus meningkat dan menjadi bagian penting dari mesin pertumbuhan global. Perkembangan jaringan produksi regional dan global yang mendorong peningkatan intra industry-trade antar negara pemasok akan menjadi alasan utama terjadinya peningkatan perdagangan jasa antar negara. Hal ini tentunya karena salah satu peranan jasa adalah sebagai faktor pendukung dan penunjang proses produksi, seperti: jasa logistik dan distribusi, jasa transportasi, dan jasa keuangan (Kemendag, 2015).

Memahami Masyarakat Ekonomi ASEAN: Tantangan Kawasan dan Domestik        

 “The ASEAN Economic Community is the realisation of the end-goal of economic integration as outlined in the ASEAN Vision 2020, to create a stable, prosperous and highly competitive ASEAN economic region in which there is a free flow of goods, services, investment and a freer flow of capital, equitable economic development and reduced poverty and socio-economic disparities in year 2020.” –Bali Concord II

“Masyarakat Ekonomi ASEAN adalah perwujudan tujuan akhir dari integrasi ekonomi sebagaimana diuraikan dalam Visi ASEAN 2020, untuk menciptakan kawasan ekonomi ASEAN yang stabil, sejahtera, dan berdaya saing tinggi di mana terdapat arus barang, jasa, investasi dan aliran modal yang lebih bebas, pembangunan ekonomi yang adil dan pengurangan kemiskinan dan kesenjangan sosial-ekonomi pada tahun 2020. ”

RECALLING the strong commitment of ASEAN Leaders in the 2007 Cebu Declaration to accelerate the establishment of an ASEAN Community by 2015, in which the Leaders agreed to hasten the establishment of the ASEAN Economic Community by 2015 and to transform ASEAN into a region with free movement of goods, services, investment, skilled labour and freer flow of capital;” -Deklarasi Cebu

MENGINGAT komitmen kuat para Pemimpin ASEAN dalam Deklarasi Cebu 2007 untuk mempercepat pembentukan Komunitas ASEAN pada 2015, di mana para Pemimpin sepakat untuk mempercepat pembentukan Komunitas Ekonomi ASEAN pada 2015 dan untuk mengubah ASEAN menjadi sebuah kawasan dengan pergerakan bebas dari barang, jasa, investasi, tenaga kerja terampil dan aliran modal yang lebih bebas;”

Untuk memahami apa itu Masyarakat Ekonomi ASEAN dan apa yang dimimpikan para pemimpin ASEAN, kita perlu melakukan napak tilas kembali pada ratifikasi Bali Concord II dan Deklarasi Cebu di Filipina tentang komitmen untuk mempercepat implementasi Masyarakat ASEAN di tahun 2015. ASEAN memiliki visi untuk mengubah kawasan Asia Tenggara menjadi kawasan yang stabil, sejahtera, dan berdaya saing yang didukung oleh pembangunan ekonomi yang seimbang, pengurangan kemiskinan, dan kesenjangan sosial-ekonomi antara negara-negara anggota (ASEAN Vision 2020).  Memasuki masa Masyarakat Ekonomi ASEAN (Masyarakat Ekonomi ASEAN), yaitu dengan adanya satu pasar tunggal ASEAN di mana pergerakan barang dan jasa semakin bebas di kawasan ASEAN. Karakter tersebut tertuang dalam Cetak Biru Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 yang terbit di tahun 2017. Hal ini dapat mengakibatkan semakin ketatnya persaingan antar individu dan antar negara (Gunadi, 2016).

Dalam Cetak Biru Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 tersurat keyakinan optimisme bahwa dengan berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN akan tercipta sebuah kawasan yang berdaya saing tinggi, pembangunan ekonomi yang adil, serta sebuah kawasan yang terintegrasi dengan ekonomi global (“a highly competitive economic region, a region of equitable economic development, and a region fully integrated into the global economy”[Deklarasi Cetak Biru Masyarakat Ekonomi ASEAN 2007]), namun banyak yang melihat hilangnya hambatan perdagangan dan jasa serta arus tenaga kerja dan modal yang lebih bebas di kawasan dengan penuh kekhawatiran. Masyarakat Ekonomi ASEAN dipandang sebagai pembawa kompetisi bagi perusahaan-perusahaan dan tenaga kerja domestik yang belum siap berhadapan dengan raksasa-raksasa ASEAN. Di Thailand, tidak banyak yang paham Masyarakat Ekonomi ASEAN, terutama usaha kecil dan menengah (Choiruzzad, 2015). Di Indonesia muncul berbagai kekhawatiran serupa. Bahkan mengenai kesiapan tenaga kerja yang harus siap bersaing dengan tenaga kerja yang berasal dari negara lain di kawasan karena sebagian besar tenaga kerja Indonesia tidak dilengkapi dengan keterampilan atau sertifikasi yang mumpuni untuk diakui di tingkat regional (Gunadi, 2016).

Namun, di sisi lain ada juga yang memandang optimis mengenai Masyarakat Ekonomi ASEAN. Choiruzzad (2015) menyatakan bahwa sebuah penelitian peneliti senior di Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA) menyatakan bahwa liberalisasi ekonomi dan integrasi kawasan ASEAN telah membawa banyak manfaat yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi lagi. Tumbuhnya perekonomian kawasan dapat diterjemahkan sebagai turunnya angka kemiskinan bagi negara-negara anggota ASEAN.

 

 

Penutup

Dengan terciptanya pasar bebas antar negara ASEAN tersebut, diharapkan negara-negara di kawasan ASEAN bisa lebih fokus untuk menjaga stabilitas ekonominya terutama dalam menghadapi persaingan dari luar negeri seperti China, Korea dan bahkan dari negara-negara Eropa.

Di tengah-tengah kompetisi pasar bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN, bagi Indonesia sendiri ibarat memiliki dua sisi mata pisau, bisa jadi merugikan dan juga menguntungkan. Masyarakat Ekonomi ASEAN bisa menguntungkan karena Indonesia memiliki potensi sumber daya alam yang luar biasa untuk dipasarkan di luar negeri. Selain itu dengan jumlah penduduk yang sangat banyak, Indonesia juga menjadi pasar yang potensial untuk digarap oleh negara-negara lain. Oleh karena itu pemerintah sudah bersiap-siaga sejak dini untuk mensosialisasikan dampak positif ataupun negatif dengan adanya Masyarakat Ekonomi ASEAN ini.

Karena Masyarakat Ekonomi ASEAN ini tidak hanya ditujukan pada sektor yang kecil, maka persiapan sebuah negara dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN juga harus dipersiapkan dengan sangat matang dan serius. Dunia bisnis menjadi wilayah yang sangat potensial untuk dikembangkan di era Masyarakat Ekonomi ASEAN. Karena dengan terbukanya pasar tunggal tersebut para pelaku bisnis bisa dengan mudah mengembangkan usahanya di tingkat domestik maupun tingkat kawasan ASEAN.

Daftar Pustaka

Choiruzzad, Shofwan Al Banna. (2015). ASEAN Di Persimpangan Sejarah: Politik Global, Demokrasi, & Integrasi Ekonomi. Yayasan Pustaka Obor Indonesia: Jakarta.

Das, S., (2013). ASEAN Economic Community Scorecard: Performance and Perception. ISEAS Publishing, Singapore.

Gunadi, Ariawan. (2016). ASEAN Economic Community Impact For Indonesia. Jurnal Opinio Juris. Vol 19.

Hew, Denis. (2007). Introduction: Brick by brick – The  building of ASEAN Economic Community. ISEAS Publishing, Singapore.

Kemendag RI. (2015). Rencana Strategis Perundingan Perdagangan Internasional Tahun 2015-2019. 2015. Direktorat Jendral Perundingan Perdagangan Internasional, Jakarta.

Kemenlu RI. (2012). ASEAN Selayang Pandang. Edisi ke-20. Direktorat Jenderal ASEAN Kemenlu RI, Jakarta.

Sumber Internet

ASEAN Economic Progress, ASEAN Statistic (https://www.aseanstats.org/wp-content/uploads/201 7/08/ASEAN_economic_progress.pdf diakses 2 Maret 2019)

ASEAN Secretariat. (1997).  ASEAN Vision 2020, (https://asean.org/?static_post=asean-vision-2020, diakses 3 Maret 2019)

ASEAN Secretariat. (2007). ASEAN Economic Community Blueprint, https://asean.org/wp-content/uploads/archive/5187-10.pdf

ASEAN Secretariat. (2015). ASEAN Economic Community Blue Print 2025, (https://www.asean.org/storage/2016/03/AECBP_2025r_FINAL.pdf, diakses 3 Maret 2019)

ASEAN Secretariat. (2017). Fact Sheet of ASEAN Economic Community. (https://asean.org/wp-content/uploads/2012/05/7c.-May-2017-Factsheet-on-AEC.pdf, diakses 3 Maret 2019)

Kemenlu RI. (2015). Masyarakat Ekonomi ASEAN (https://www.kemlu.go.id/id/kebijakan/asean/Pages/Masyarakat-Ekonomi-ASEAN-(Masyarakat Ekonomi ASEAN).aspx diakes 2 Maret 2019)

Retno Marsudi, (2017). “50 Tahun ASEAN” (https://nasional.kompas.com/read/2017/04/25/21002191/50.tahun.asean, Diakses 2 Maret 2019).

Virgianita. A.  (2017). Menuju 2 tahun Masyarakat ASEAN. Sindonews.com. (https://nasional.sindonews.com/read/1193687/18/menuju-dua-tahun-masyarakat-ekonomi-asean-1491165510 ,diakses 3 Maret 2019)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *