Publications
Ulasan Bacaan mengenai Functional Theory of International Regimes oleh Keohane
Masyarakat Ekonomi ASEAN
ASEAN sebagai Landasan Kebijakan Luar Negeri Indonesia
Menelaah Peran Non-Governmental Organisation(NGO) dalam Isu Lingkungan Hidup Global
Wacana Feminis dalam Sinema Fiksi Ilmiah “MIB: International”
Teknologi Neuro dalam Transformasi Militer
Migrasi Internasional Menurut Pemikiran Stephen Castles
2015 Melanesian Festival As a Form of Indonesian Public Diplomacy in Asia – Pacific
Environmental Security dalam Pandangan Brown dan Trombetta: Sebuah Review atas Permasalahan Lingkungan Hidup Global Kontemporer
Peran Brazil dalam Keamanan Kooperatif di Amerika Selatan
Terorisme Sebagai Ancaman Keamanan Non-Tradisional
Reformasi Menuju Demokrasi : Kebijakan luar negeri masa presidensi B.J Habibie
Volume 1 No. 1
RESPONSIBILITY TO PROTECT: PROTECTING OR NEGLECTING?
Reading Report – Diplomasi Ekonomi
Volume 1 No. 2
Politik Luar Negeri Indonesia dan Identitas Islam: Kebijakan Indonesia dalam Mengatasi Krisis Muslim Rohingya Tahun 2017
Muhammad Jullyo Bagus Firdaus
Mahasiswa Hubungan Internasional
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur
Abstrak
Membahas mengenai Politik Luar Negeri Indonesia tentu tidak jauh dari landasan ideologis “Politik Bebas-Aktif”, yang juga sebagai postulat dalam implementasi setiap politik luar negeri Indonesia. Sejak awal kemerdekaan Indonesia hingga sekarang, doktrin ini juga masih berlaku di era pemerintahan Presiden Joko Widodo. Dalam pembahasan jurnal ini, penulis menganalisa mengenai studi kasus diplomasi bilateral yang dilakukan oleh Indonesia untuk mengatasi krisis Rohingya di Myanmar pada tahun 2017 dalam menciptakan perdamaian dunia. Bentuk yang dilakukan oleh Indonesia tentu berkaitan dengan kepentingan nasional berupa upaya penciptaan kestabilan dan keamanan di level global. Jurnal ini menggunakan metode Historical and Identity Representation untuk membedah pelaksanaan Politik Luar Negeri Indonesia berdasarkan landasan ideologis Bebas-Aktif serta landasan konstitusional pada pembukaan UUD 1945, serta kontruksi identitas Indonesia sebagai salah satu negara Muslim terbesar di dunia. Penulis menganggap bahwa negara harus mengetahui arah kebijakan luar negeri berdasarkan identitas.
Kata Kunci: Politik luar negeri,bebas-aktif, Indonesia, konstruktivisme,Rohingya
Implikasi One China Policy Terhadap Hubungan Kerja Sama Dagang Taiwan dan ASEAN
Shyintia Lo
Abstract
Taiwan’s international status and diplomatic activities have been replaced by mainland China since the One China Policy is issued in 1979. These boundaries affect Taiwan’s strength in cooperating with countries in the world, including ASEAN. Nevertheless, Taiwan remains active in expanding its economic power, this is seen by the Taiwan’s membership in the WTO and the opening of trade cooperation offices in other countries. This research uses quantitative research methods by using graphs and tables to analyze the dynamics of Taiwan and ASEAN trade since the issuance of policy. The policy does not have a direct impact on Taiwan and ASEAN trade because both of them are the largest partner until 2015, followed by a significant increase in investment and trade. China’s hegemony in ASEAN has led to dilemmatic conditions and can intimidate ASEAN countries regarding cooperation with Taiwan if they are considered as threat to China’s interests. Taiwan through its New Southbound Policy strategy in ASEAN seeks to minimize the impact of Chinese policy.
Keywords : One China Policy, New Southbound Policy, China, Taiwan, ASEAN, Perdagangan
Abstrak
Status internasional dan aktivitas diplomasi Taiwan tergantikan oleh China daratan sejak dikeluarkannya One China Policy pada 1979. Keterbatasan tersebut mempengaruhi kekuatan Taiwan dalam menjalin kerja sama dengan negara-negara di dunia, termasuk kawasan ASEAN. Meskipun demikian, Taiwan tetap aktif dalam mengekspansi kekuatan ekonominya, ini dilihat dengan bergabungnya Taiwan dalam WTO serta dibukanya kantor kerja sama dagang di negara lain. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan menyajikan data-data seperti grafik dan tabel untuk menganalisis dinamika perdagangan Taiwan dan ASEAN sejak dikeluarkannya One China Policy. Kebijakan tersebut tidak berdampak secara langsung terhadap perdagangan Taiwan dan ASEAN karena keduanya saling menjadi mitra perdagangan terbesar hingga 2015 yang diikuti dengan peningkatan investasi dan perdagangan yang signifikan. Besarnya kekuatan hegemoni China di ASEAN menyebabkan kondisi dilematis dan dapat mengintimidasi negara ASEAN terkait kerja sama dengan Taiwan jika dianggap mengancam kepentingan China. Taiwan melalui strategi New Southbound Policy di ASEAN berupaya meminimalisir dampak kebijakan China tersebut.
Katakunci : One China Policy, New Southbound Policy, China, Taiwan, ASEAN, Perdagangan
The Death of NAFTA and Why it Happens: An Explanation from Economic Process of Regime Change
Celica Andini
reply.celica@gmail.com
Departement of International Relations
Universitas Indonesia
Abstract
The death of 24 years old North America Free Trade Agreement (NAFTA) replaced by USMCA (United States, Mexico, and Canada) recently draw a vast international attention. With the new deal concentrate in tightening intellectual property rights, dairy products and digital technology enforced in 2020. Several assume that these is merely a power-talk from United States and current demeanour is going to jeopardize international regime composure. This paper aim to counter prior assumption and further explain the factors that might influence these regimentals change and why is it wrong. Borrowing theory of complex interdependence and its unnecessarily asymmetrical effects to explain power politics in economic process of regime change. Subsequently, Canada and Mexico felt change of regime is unavoidable considering technology, people’s inquiry as well as the aggregate is going upward the current regime cannot sustain. Is neither zero-sum or realist control over power, it’s a win – win with a clear win for United States and half-win for Canada and Mexico for this agreement and what’s left in the future of international regime.
Keywords: NAFTA, USMCA, Economic Process of Regime Change, Complex
Interdependence
What if CoVid-19 is a Bioweapon?
Ryan Muhammad Fahd
ryanmf93@gmail.com
IREC Indonesia
Department of International Relations, Universitas Indonesia
Abstract
A conspiracy theory circulates among the public which states that CoVid-19 might be a Chinese bioweapon experiment gone wrong. Several media and high-profile individuals even endorses the theory.Although the myth has been debunked by health experts, it is still a thrilling exercise1 to imagine what if CoVid-19 really is a Chinese bioweapon experiment. From that point on, we can further imagine what are the political and legal consequences that might entail, in other words this piece is an extended hypothesis.
Kata Kunci: Politik luar negeri,bebas-aktif, Indonesia, konstruktivisme,Rohingya